Assalamualaikum wr wbr
Met malem semuanya...
Hari ini aku sudah memasuki usia
8 bulan setengah lho, ntar tanggal 8 desember 2016 itu tepat aku jadi bayi 9
bulan. Sekarang hari minggu ini betapa bahagianya diriku karena kedua
orangtuaku hadir menemaniku sepanjang waktu. Bukan hari ini aja tetapi juga
hari kemarin hari sabtunya, malah ayahku mutusin nggak ikut acara seminar di
sabtu pagi karena aku sedang sakit.
Asli lho badan ini nggak karuan,
dan rasa itu dimulai di hari kamis tanggal 17 nopember kemarin. Badan terasa
linu dan pegal-pegal, masalahnya aku nggak bisa bilang pada siapa-siapa. Nenekku
yang mejadi malaikat pelindungku disaat ayah ibu sibuk di jam kerja senin
hingga jumat mulai meihat gelagat cucunya ini nggak enak badan. Dari kedua
lubang idungku terasa banyak cairan, nggak seperti biasanya, terasa mengganggu.
Ditarik susah dibiarin gatal, aku hanya bisa kucek-kucek hidung ini dengan
tangan mungilku dan otomatis cairan bening agak lengket inipun jadi beredar
disekitar wajahku. Nenekku terlihat hawatir dan terus-terusan menyeka cairan
yang ada diidungku, malah sudah memberitahu kepada ayah bundaku. Aku sih cuek
aja, selama tidak terasa pusing mah mending bergerak dan bermain di dunia yang
menyenangkan ini.
Tapi makin sore mulai kerasa
badan ini nggak enak, susah diceritakan karena baru sekarang aku merasakan
badan seperti ini. Ingin curhat sama nenek atau ibu ternyata aku nggak bisa,
karena belum bisa bicara, cuman oa oa dan tangisanlah yang mewakili kegelisahanku.
Ayah belum pulang hingga selepas isya katanya sih ada meeting malam-malam, “Ah
teganya kau ayah, ini anakmu sedang sakit” rintih aku sambil merasakan pegal
dan panas di permukaan kulit tubuh mungilku ini.
Klo nggak salah malam jumat itu
jam 23.00 wib ayahku baru pulang. Langsung mandi buru-buru dan setelah shalat
isya segera melihat kondisiku, wajahnya terlihat tegang dan hawatir. Aku mulai
nggak bisa diam dan terus menangis, yang paling mengganggu ternyata sekarang
aku susah bernafas pake hidung. Jadi mencoba pake mulut aliran nafasnya. Disaat
lapar dan harus menyusu sama ibuku, itulah masalahnya. Mulut mau ngenyot,
hidung mangpet nggak bisa nafas, jadinya aku bete, dan nangislah
sekencang-kencangnya. Akibatnya semua panik dan malam jumat kemarin seisi rumah
begadang jagain aku. Khususnya nenek, ayah dan ibu. Nenekku malah menggendong
sampai jam 04.00 dini hari karena aku terus rewel. Begitupun jumat malam sabtu,
idungku meler terus dan sesekali terbatuk, kata nenekku aku kena penyakit pilek
dan batuk. Terserahlah apa namanya tapi aku pengen sembuh, pengen bisa nenen
dengan tenang sama payudara ibuku, pabrik makanan terbaikku.
Malam sabtu lumayan sudah bisa
sedikit tertidur dan itupun larut malam, soalnya aku sedikit terbebas dari
derita sulit bernafas karena aksi heroik nenekku. Disaat melihat cucu cantiknya
ini susah napas karena kedua lubang hidungnya ada cairan lendir agak hijau. Segera
nenek pasang kuda-kuda, sebelum aku sadar apa yang terjadi. Tiba-tiba mulut
nenekku sudah nempel di kedua lobang hidungku dan srottt..... tarikan keras
terasa menyedot semua lendir di hudngku tanpa sisa. Ada rasa kaget bukan alang
kepalang dan aku langsung teriak nangis sekencang-kencangnya.
Ehh... tapi terasa nafasku
kembali normal sehingga tangisku pelahan mereda. Terasa ringan merasuk badan
dan aku bisa menyedot puting susu ibuku tanpa terganggu kesulitan bernafas. Makasih nenekku. Aku terlelap hingga adzan shubuh
berkumandang. Ayah dan ibupun bisa terlelap dalam mimpi masing-masing begitupun
dengan nenek tercintaku.
Klo dihitung berarti total 3 hari
aku sakit pilek dan batuk, ibu dan nenekku dengan penuh kasih sayang merawatku,
menemani, memberi makan dengan telaten dan yang pasti ibuku menyusui dengan
sabar. Obat yang diberikan adalah vitamin imunped dan baby cough, rasanya manis
agak asam. Lumayan aku sih minum obat nggak terlau sulit, cuman selera makan
jadi turun naik, nggak selahap biasanya.
Insyaalloh hari ini sudah
membaik, badan segar dan ringan. Apalagi tadi malam minggu bisa tidur nyenyak
tanpa terganggu. Dan yang kereen adalah..... terereeet... itu tadi pagi
kejadiannya. Bibir mungilku mengucap sebuah kata yang penuh makna, mau tau?
Iya... alhamdulillah, aku bisa
mulai berkata dan kata pertama adalah ,“maa maa.....” Ibu aku begitu terharu,
ayah bersorak dan nenek begitu gembira. Terasa kasih sayang dan perhatian dari
orang-orang tersayang semakin tercurah dan kehadiranku menambah rasa bahagia
mereka. Akupun makin percaya diri untuk berusaha bisa berkata dengan kata-kata lainnya dengan
ditemani empat gigi yang baru tumbuh di mulut mungil ini. Met berhari minggu,
wassalam.
@ayshalunabinarwardana_201116

Tidak ada komentar:
Posting Komentar